PERAN PUBLIC RELATIONS DALAM MEMBANGUN CITRA BAIK PERUSAHAAN LISTRIK NEGARA (PLN) DI MATA PUBLIC INTERNAL


Diajukan untuk tugas mata kuliah Image Building

Dosen  Prof.Dr.H.Soeganda Priyatna, Drs., M.M
Asisten Dosen Firman A.Taufik Robbi, M.Si


Kelas A
Kelompok 5




Ferry Heriawan                       411530351220136
Maria Natalia s                        41153030120046




ILMU KOMUNIKASI
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS LANGLANGBUANA
BANDUNG
2014






KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadiran Tuhan Yang Maha Esa atas berkat dan rahmatnya, kami bisa menyelesaikan makalah dengan judul “Membangun Citra Positif” makalah ini dikerjakan sebagai syarat untuk memenuhi tugas ujian akhir semester mata kuliah ImageBuilding.Kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu kami, dalam menyelesaikan tugas makalah ini.Oleh karena itu, kritik dan saran yang bersifat membangun sangat kami harapkan demi sempurnannya makalah ini.Akhir kata, semoga makalah ini dapat memberikan informasi serta bermanfaat bagi para pembacanya.








Bandung, 28 Januari 2015


Penulis

i








ABSTRAK

Citra adalah seperangkat ide dan kesan seseorang terhadap suatu obyek tertentu. Sikap dan tindakan seseorang terhadap suatu obyek akan ditentukan oleh citra obyek tersebut yang menampilkan kondisi terbaiknya (Ruslan, 2003). Suatu perusahaan harus melakukan analisis citra (image analysis) dalam mengetahui sejauhmana peranan PR dalam perusahaan tersebut.Analisis citra tersebut terdiri dari analisis terhadap khalayak sasaran yang memerlukan penilaian (tanggapan), peserta/publik tentang citra perusahaan, citra program, pelayanan jasa, penampilan pemberian pelayanan, dan para pesaingnya.Power (2005) menyebutkan citra perusahaan adalah citra keseluruhan dari kesatuan dari citra merek produk (product brand image), citra merek perusahaan (corporate brand image) dan citra pemimpin perusahaan.Citra dapat berbentuk positif dan negatif.Citra positif dapat terbentuk apabila publik mendapatkan informasi yang baik mengenai suatu perusahaan dan begitu sebaliknya untuk citra negatif.Ketika berkomunikasi dengan pihak eksternal (khalayak), PR memiliki strategi khusus dalam mencapai pembentukan citra positif sebagai sasaran perusahaan.







ii





ABSTRAC
Image is a set of ideas and impressions someone to a particular object. Attitudes and actions of a person to an object is determined by the image of the object that displays the best of circumstances (Ruslan, 2003). A company must perform image analysis (image analysis) determine the extent of the role of public relations in the company tersebut.Analisis image consists of an analysis of the target audience that needs assessment (feedback), participants / public about the company's image, the image of programs, services, giving the appearance of services, and the pesaingnya.Power (2005) mentions the company's image is the overall image of the unity of the brand image of the product (product brand image), the brand image of the company (corporate brand image) and the image of the leader can be shaped perusahaan.Citra positive and positive negatif.Citra could be formed when the public get good information about a company and so contrary to the image negatif.Ketika communicate with external parties (the public), the PR has a special strategy to achieve the formation of a positive image as a target company.









iii











DAFTAR ISI
Kata Pengantar                                   …………………………………………………….. i
Abstrak (bhs Indo)                              …………………………………………………….. ii
Abstract (bhs Inggris)                         …………………………………………………….. iii
BAB I PENDAHULUAN
·         1.1 Latar Belakang                  …………………………………………………….. 1
·         1.2 Perumusan Masalah          …………………………………………………….. 2
·         1.3 Tujuan Penulisan               …………………………………………………….. 3
BAB II KAJIAN PUSTAKA
·         2.1 Sejarah Perusahaan Listrik…………………………………………………….. 4
·         2.2 Manfaat Listrik bagi kehidupan………………………………………………... 4
BAB III GAMBARAN UMUM
·         3.1 Citra dan pencitraan dalam perusahaan………………………………………… 5
BAB IV PEMBAHASAN
·         4.1 Pengertian citra                 ……………………………………………………… 8
·         4.2 Citra perusahaan               ……………………………………………………… 10
·         4.3 Pengertian public relations……………………………………………………… 12
·         4.4 Public PR (public relations)…………………………………………………………… 14
·         4.5 Tugas public relations       ……………………………………………………….. 16
·         4.6 Hubungan public relations dengan public internal……………………………… 18
BAB V PENUTUP
·         5.1 Kesimpulan……………………………………………………… 20
·         5.2 Saran         ……………………………………………………… 20
·         DAFTAR PUSTAKA












BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang

Citra merupakan tujuan dan sekaligus merupakan reputasi dan prestasi yang
hendak dicapai. Walaupun citra merupakan sesuatu yang abstrak dan tidak dapat diukur secara sistematis, namunwujudnya dapat dirasakan dari hasil penelitian baik dan buruk yang datang dari khalayak atau masyarakat luas.Penilaian atau tanggapan tersebut dapat berkaitan dengan timbulnya rasa hormat (respect), kesan.
kesan yang baik yang berakar pada nilai-nilai kepercayaan. Keberhasilan perusahaan membangun citra dipengaruhi oleh berbagai macam faktor.Keinginan sebuah organisasi untuk mempunyai citra yang baik pada publik sasaran berawal dari pengertian yang tepat mengenai citra sebagai stimulus adanya pengelolaanupaya yang perlu dilaksanakan.Ketepatan pengertian citra agar organisasi dapat menetapkan upaya dalam mewujudkannya pada obyek dan mendorong prioritas pelaksanaan. Citra menampilkan kesan suatu obyek terhadap obyek yang lain yang terbentuk dengan memproses informasi setiap waktu dari berbagai sumber terpercaya.Pentingnya citra sebuah perusahaan dikarenakan citra positif dapat memberikan kemudahan bagi perusahaan untuk berkomunikasi dan mencapai tujuan secara efektif, sedangkan citra negatif sebaliknya.
Citra positif dapat digunakan sebagai pelindung terhadap kesalahan kecil, kualitas teknis atau fungsional sedangkan citra negatif dapat memperbesar kesalahan tersebut.Citra menggambarkan pengalaman dan harapan konsumen atas kualitas pelayanan perusahaan dan citra mempunyai pengaruh penting terhadap manajemen atau dampak internal, dimana citra perusahaan yang kurang jelas dan nyata dapat mempengaruhi sikap karyawan (Sutojo, 2004: 60).


Perusahaan Listrik Negara (PLN) adalah sebuah instansi BUMN yang mengurusi semua aspek kelistrikan yang ada di Indonesia.Tata nilai organisasi yang dianut oleh PLN adalah integritas, peduli, pembelajar dan saling percaya.PLN senantiasa membangun citra positif perusahaan di mata masyarakat.Usaha yang dilakukan oleh PLN dalam menciptakan citra positif di mata masyarakat adalah dengan meningkatkan kualitas pelayanan, salah satunya dengan melakukan kegiatan Coorporate Social Responsibility (CSR), dsb.
Berbagai upaya yang dilakukan oleh PLN dalam membangun citra positif perusahaan di mata masyarakat juga tak jarang menemukan kesulitan. Kesulitan yang
dialami perusahaan dapat menimbulkan opini di masyarakat yang berdampak pada citra
perusahaan, dimana perusahaan mendapat citra negatif. Citra negatif itu terlihat dari hal yang paling umum terjadi di lingkungan masyarakat akhir-akhir ini, yakni opini mengenai pemadaman bergilir yang sering terjadi.Citra perusahaan dapat diukur melalui riset atau survey yangdilakukan untuk mengetahui opini publik, baik dari pihak internal perusahaan maupun eksternal. Hal ini juga yang terjadi di PLN dalam mengukur citra perusahaan.Pengukuran citra perusahaan dilakukan oleh Public Relations.Berkaitan dengan pemadaman bergilir yang terjadi dan dirasakan sangat merugikan masyarakat, citra perusahaan PLN dapat bergeser ke arah yang tidak diharapkan.Citra negatif inilah yang menjadi perhatian khusus perusahaan dalam menindaklanjutinya demi eksistensi perusahaan.Pemadaman bergilir akhir.
Pentingnya Citra Diri yang Positif  “Anda adalah sebagaimana yang Anda pikirkan tentang diri Anda sendiri” Bingung? Versi aslinya, mungkin malah lebih mudah dipahami: “You are what you think”. Ini adalah kalimat pepatah luar negeri. Maksudnya adalah jika kita memiliki citra diri positif, maka kita akan mengalami berbagai macam hal positif sesuai dengan apa yang kita pikirkan.Banyak ahli percaya bahwa orang yang memiliki citra positif adalah orang yang beruntung.Citra diri yang positif membuat mereka menikmati banyak hal yang menguntungkan.




1.2  Perumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang masalah di atas, maka peneliti mengajukan perumusan masalah sebagai berikut :
1.      Bagaimana kesan masyarakat terhadap perusahaan PLN?
2.      Bagaimana kepercayaan masyarakat terhadap perusahaan PLN?
3.      Bagaimana sikap masyarakat terhadap perusahaan PLN?

1.3 Tujuan Penulisan
Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui citra perusahaan PT.Perusahaan Listrik Negara (Persero) di masyarakat :
1.      Untuk mengetahui kesan masyarakat terhadap perusahaan PT. Perusahaan Listrik Negara (Persero)
2.      Untuk mengetahui kepercayaan masyarakat terhadap perusahaan PT. Perusahaan Listrik Negara (Persero)
3.      Untuk mengetahui sikap masyarakat terhadap perusahaan PT. Perusahaan Listrik Negara (Persero)








BAB II
KAJIAN PUSTAKA

2.1 Sejarah Perusahaan Listrik
Sejarah PT PLN (Persero) Pusat Enjiniring Ketenagalistrikan dan organisasinya yang dibentuk dengan Surat Keputusan Direksi PT PLN (Persero) Nomor 195.K/DIR/2010, tanggal 14 April 2010 merupakan pengembangan dari PLN Jasa Enjiniring yang dibentuk berdasarkan SK. Direksi No. 029.K/025/DIR/1996, tanggal 12 Maret 1996 dimana PLN JE sebelumnya merupakan pengembangan dari PLN PPE (Pusat Pelayanan Enjiniring) yang dibentuk berdasarkan SK. Direksi No. 085/DIR/85 tanggal 10 Mei 1985 dimana secara operasional sejak bulan Maret 1988 berperan sebagai in-house Consultant untuk PT PLN (Persero).
Di samping sebagai tugasnya sebagai Unit Penunjang di bidang Enjiniring Ketenagalistrikan PLN Pusat Enjiniring Ketenagalistrikan bertugas membina dan menyiapkan konsultan nasional, pembinaan dilakukan dengan cara mewajibkan Konsultan Nasional pada setiap kontrak PLN. Dengan demikian Konsultan Nasional tersebut bekerja sama dengan PLN PPE dan Konsultan Asing melaksanakan kegiatan Enjiniring (on the job participation). Kerjasama dengan konsultan-konsultan lokal seperti (PT. Encona, PT.Arkonin, PT. Mitsa Ewbank Preece, PT. Connusa, PT. Graha Purnalistna, PT.Wiratman, PT. Indra Karya, PT. Kwarsa Hexagon) dan Konsultan Asing (Bechtel Internasional, Inc., Black & Veacth international, Lahmeyer International,Tepsco, Nippon Koei, Genzl, Wesjec, Monenco, Electro Watt, Europe Power System, Sargent & Lundy Integ, Ewbank Preece, Collenco) terus di tumbuh-kembangkan dalam rangka meningkatkan pangsa pasar serta meningkatkan pengembangan kinerja dan bobot pengalaman bidang-bidang keahlian khusus sektor ketenaga listrikan. Sebagai in-house Consultant PLN Pusat Enjiniring Ketenagalistrikan diharapkan dapat meningkatkan kemampuan profesionalisme khususnya dalam menghadapi tantangan dan tuntutan pasar yang semakin konpetitif. Sebagai kantor yang bergerak dibidang perencanaan PLN Pusat Enjiniring Ketenagalistrikan merasa perlu untuk memperoleh suatu pengakuan akan kemampuannya. Sesuai kondisi dan kemampuan yang, sekaligus untuk memantapkan Prosedur Enjiniring yang telah dimplementasikan secara ekstensif dan intensif sejak Septeember 1996 PLN Pusat Enjiniring Ketenagalistrikan memprogramkan untuk memperoleh ISO 9001 dibidang desain dan telah berhasil memperoleh sertifikat tersebut dari Badan Sertifikasi Internasional SGS- Yarsley International Certification Services Limited pada tanggal Juni 1997. Dengan dimilikinya Sertifikat ISO 9001 maka PLN Unit Bisnis Pusat Enjiniring Ketenagalistrikan dapat disejajarkan dengan perusahaan-perusahaan Konsultan terkemuka lainya dalam bidang enjiniring ketenaga listrikan. PLN Pusat Enjiniring Ketenagalistrikan memberikan pelayanan yang handal dan memuaskan pelanggan, mampu bersaing secara internasional dengan selalu mengikuti perkembangan teknologi serta didukung oleh enjinir yang profesional dan sitem manajeman mutu ISO 9001.
2.2 Manfaat listrik bagi kehidupan
Apa itu listrik? Apakah Anda pernah bertanya-tanya dari mana asalnya dan bagaimana listrik terbentuk? Apakah Anda pernah mempertimbangkan dampak dari lingkungan dan bagaimana menghasilkan listrik yang ramah terhadap lingkungan?

Anda dapat berkontribusi untuk beberapa hal perihal lingkungan saat anda menggunakan pasokan listrik yang anda hasilkan listrik di rumah atau di mana pun Anda berada.

Listrik dapat dihasilkan dari sumber energi alam seperti angin atau misal panas matahari dan telah menjadi kebutuhan yang paling banyak digunakan di dunia sejak penemuannya. Sumber lain adalah bahan bakar fosil, dan batu bara adalah contoh dari jenis gas yang juga dapat digunakan untuk menghasilkan listrik. Petir juga bentuk lain dari listrik. Setiap negara memiliki perusahaan listrik sendiri untuk memasok listrik ke setiap provinsi atau distrik yang membutuhkannya. Beberapa lembaga di negara lain telah mengembangkan sistem energi mereka sendiri sehingga memungkinkan mereka untuk menghasilkan penemuan listrik mereka sendiri dan mereka gunakan sebagai blueprint untuk mereka tawarkan ke beberapa negara potensial untuk mendukung penemuan mereka. Dua bentuk terkenal sistem energi yang sedang digunakan oleh berbagai negara dengan melihat kondisi alam sekitar adalah panel surya dan kincir angin. Jenis-jenis sumber yang sangat ramah lingkungan dan Anda tidak perlu khawatir tentang apa pun mengenai keselamatan lingkungandari teknologi tersebut.


Baterai juga merupakan salah satu contoh kecil dari manfaat listrik. Tapi baterai diperlukan untuk dikenakan pada listrik dengan voltase kecil, dan bila diperlukan, dapat datang sangat berguna dalam melayani tujuannya Pengadaan listrik pada peralatan elektronik kecil, Misalnya jam dinding, remot televisi, handphone dan lai sebagainya.

Selain itu manfaat listrik adalah sebagai penopang kehidupan, bayangkan jika anda hidup tanpa listrik, tidak ada pencahayaan, bumi kita akan gelap gulita, dan elektronik anda seperti televisi, gadget, dan komputer anda tidak bisa menyala, begitu membosakanya hidup ini tanpa adanya listrik, maka dari itu letarikanlah lingkungan dengan memakai sumber energi listrik terbarukan yang ramah lingkungan mengingat manfaat listrik yang begitu luar biasa bagi kehidupan umat manusia.

Untuk tenaga surya perlu dijalankan menggunakan panel surya, baterai besar yang diperlukan seperti yang di mana energi yang diambil dari matahari disimpan. Tentu, dengan adanya kata surya, energi yang dihasilkan oleh panel surya pun berasal dari matahari. Dan dengan matahari hanya muncul di siang hari, kekuasaan terbatas hanya dapat disimpan dalam baterai tetapi jika Anda memiliki banyak baterai maka Anda dapat menyediakan daya yang cukup untuk bertahan selama beberapa minggu atau mungkin bulan. Jenis sistem energi tidak hanya baik untuk Anda tetapi juga baik untuk lingkungan. Tapi ini semacam sistem energi dapat dikenakan biaya sejumlah besar uang sebagai panel surya ini ratusan biaya atau ribuan dolar. Beberapa orang telah beralih ke sistem energi seperti panel surya dan kincir angin sebagai sumber energinya sendiri untuk listrik sehingga bisa menghemat uang di masa mendatang.

Meskipun listrik adalah penemuan besar, itu juga bisa menjadi salah satu penemuan paling berbahaya. Beberapa kabel kabel yang terhubung ke tiang listrik akhirnya akan menggantung ke bawah dan dapat menyebabkan luka fatal atau bahkan kematian bagi manusia dan hewan. Jika entah bagaimana, Anda mengalami masalah seperti ini, seharusnya anda memberitahukan kepada otoritas setempat dan tinggal melonggarkan kawat kabel sejauh mungkin. Ini melonggarkan kabel kabel listrik masih memiliki hidup yang berjalan di dalamnya dan kontak langsung dengan kawat bilang kau mungkin biaya hidup Anda. Jadi pada dasarnya mengatakan, listrik sangat bermanfaat bagi kami, tetapi pada saat yang sama berbahaya terutama ketika listrik hidup terkena lingkungan.



BAB III
GAMBARAN UMUM

2.1 Citra dan Pencitraan dalam Perusahaan
Citra adalah total persepsi terhadap suatu objek, yang dibentuk dengan memproses informasi dari berbagai sumber setiap waktu. Citra dalam bahasa Inggris “image” adalah sejumlah kepercayaan, ide, atau nilai dari seseorang terhadap suatu objek, merupakan konstruksi mental seseorang yang diperolehnya dari hasil pergaulan atau pengalaman seseorang, atau merupakan interpretasi, reaksi, persepsi atau perasaan dari seseorang terhadap apa saja yang berhubungan dengannya.
Untuk lebih jelas tentang citra, beberapa ahli telah mengemukakan definisi dari citra.Webster (1993) mendefinisikan citra sebagai gambaran mental atau konsep tentang sesuatu.Kotler (1995) mendefinisikan citra sebagai jumlah dari keyakinan- keyakinan, gambaran-gambaran, dan kesan-kesan yang dipunyai seseorang pada suatu obyek.Obyek yang dimaksud bisa berupa orang, organisasi, kelompok orang, atau yang lainnya. Menurut Kotler (1997), perusahaan yang mempunyai kredibilitas tinggi yang mampu membentuk citra yang positif. Dalam suatu masyarakat, sering mendengar citra yang baik maupun citra yang buruk.
Citra yang baik dalam suatu transaksi, merupakan asset yang sangat berharga, karena citra mempunyai suatu dampak pada persepsi nasabah dari komunikasi dalam berbagai hal.
Gronsoon (1990) mengidentifikasikan bahwa terdapat empat peran citra bagi suatu perusahaan atau organisasi.
Citra mempunyai dampak terhadap pengharapan perusahaan. Citra yang positif lebih memudahkan bagi organisasi untuk berkomunikasi secara efektif dan membuat orang-orang lebih mudah mengerti dengankomunikasi dari mulut ke mulut. Sedangkan citra yang negatif mempunyai dampak dengan arah sebaliknya.
Citra sebagai penyaring yang mempengaruhi persepsi pada kegiatan perusahaan. Kualitas teknik dan kualitas fungsional dilihat melalui saringan ini. Jika citra baik, maka citra menjadi pelindung. Tetapi perlindungan akan efektif jika hanya terjadi kesalahan-kesalahan kecil pada kualitas teknis dan fungsional, artinya image masih dapat menjadi pelindung dari kesalahan tersebut. Jika kesalahan sering terjadi, maka citra akan berubah menjadi citra yang negatif.
Citra adalah fungsi dari pengalaman dan harapan konsumen/ nasabah. Ketika konsumen/ nasabah membangun harapan dan realitas pengalaman dalam bentuk kualitas pelayanan teknis dan fungsional, kualitas pelayanan yang dirasakan menghasilkan perubahan citra. Jika kualitas pelayanan yang dirasakan memenuhi atau melebihi citra, citra akan mendapat penguatan dan meningkat. Jika kinerja dibawah citra, maka pengaruhnya berlawanan.
Citra mempunyai pengaruh pada internal perusahaan (manajemen). Jika citra jelas dan positif, secara internal menceritakan nilai-nilai yang jelas dan akan menguatkan sikap positif terhadap organisasi. Sedangkan citra yang negatif juga akan berpengaruh negatif terhadap kineja karyawan yang berhubungan dengan konsumen/ nasabah dan kualitas.
Seperti yang telah dikemukakan Bernstein (1985) dan Gronsoon (1990) bahwa image (citra) adalah realitas, maka program-program pengembangan dan perbaikan citra akan memberikan citra yang positif harus didasarkan pada realitas.
Citra hanya dapat dirasakan oleh nasabah dengan kenyataan yang dialami.Agar citra yang dipersepsikan oleh masyarakat baik dan benar, citra perlu dibangun dengan jujur.Cara yang sudah digunakan secara luas dan mempunyai kredibilitas yang tinggi, yaitu dengan hubungan masyarakat.Gaulke dalam Marken (1995) mengatakan bahwa tujuan hubungan masyarakat adalah merancang dan melindungi citra organisasi. Kotler (1997) juga menjelaskan bahwa daya tarik penggunaan hubungan masyarakat sebagai cara untuk membangun citra.




BAB IV
PEMBAHASAN

4.1 Pengertian Citra
                        Citra adalah pencapaian tujuan dari kegiatan PR. Pengertian citra adalah sesuatu yang abstrak (intangible) dan tidak dapat diukur dalam ukuran nominal tertentu.Ibarat angin yang bertiup maka citra mempunyai wujud yang dapat dirasakan dari hasil penilaian baik atau buruk, seperti tanggapan yang positif maupun negatif seperti sinis yang khususnya datang dari publik (mitra kerja) dan masyarakat pada umumnya.Citra merupakan tujuan dan sekaligus merupakan reputasi dan prestasi yang hendak dicapai.Walaupun citra merupakan sesuatu yang abstrak dan tidak dapat diukur secara sistematis, namun wujudnya dapat dirasakan dari hasil penelitian baik dan buruk yang datang dari khalayak atau masyarakat luas.Penilaian atau tanggapan tersebut dapat berkaitan dengan timbulnya rasa hormat (respect), kesan-kesan yang baik yang berakar pada nilai-nilai kepercayaan.Keberhasilan perusahaan membangun citra dipengaruhi oleh berbagai macam faktor.Citra adalah salah satu aset terpenting dari suatu perusahaan atau organisasi.Citra yang baik merupakan perangkat yang kuat bukan hanya untuk menarik konsumen untuk memilih produk atau jasa perusahaan, melaikan juga memperbaiki kepuasan konsumen terhadap perusahaan atau organisasi (Sutojo, 2004: 60).
Ada beberapa macam citra yang dikenal dalam aktivitas antara perusahaan dengan masyarakat menurut Frank Jefkins diantaranya:
1) Mirror Image (Citra Bayangan).
Citra ini melekat pada orang dalam atau anggota-anggota organisasi( biasanya adalah pemimpinnya) mengenai anggapan pihak luar tentang organisasinya. Dalam kalimat lain, citra bayangan adalah citra yang dianut oleh orang dalam mengenai pandangan luar, terhadap organisasinya.Citra ini seringkali tidak tepat, bahkan hanya sekedar ilusi, sebagai akibat dari tidak memadainya informasi, pengetahuan ataupun pemahaman yang dimiliki oleh kalangan dalam organisasi itu mengenai pendapat atau pandangan pihak-pihak luar.Dalam situasi yang biasa, sering muncul fantasi semua orang menyukai.
2) Current Image (Citra yang Berlaku).
Citra yang berlaku adalah suatu citra atau pandangan yang dianut oleh pihak- pihak luar mengenai suatu organisasi.Citra ini sepenuhnya ditentukan oleh banyak-sedikitnya informasi yang dimiliki oleh mereka yang mempercayainya.
3) Multiple Image (Citra Majemuk).
Yaitu adanya image yang bermacam-macam dari publiknya terhadap organisasi tertentu yang ditimbulkan oleh mereka yang mewakili organisasi kita dengan tingkah laku yang berbeda-beda atau tidak seirama dengan tujuan atau asas organisasi.
4) Corporate Image (Citra Perusahaan).
Yang dimaksud dengan citra perusahaan adalah citra dari suatu organisasi secara keseluruhan, jadi bukan sekedar citra atas produk dan pelayanannya.
5) Wish Image (Citra yang Di harapkan).
Citra harapan adalah suatu citra yang diinginkan oleh pihak manajemen atau suatu organisasi.Citra yang diharapkan biasanya dirumuskan dan diterapkan untuk sesuatu yang relatif baru, ketika khalayak belum memiliki informasi yang memadai mengenainya.
Konsep citra dalam dunia bisnis telah berkembang dan menjadi perhatian yang serius. Citra yang baik akan sangat menguntungkan bagi perusahaan sedangkan citra yang buruk akan sangat merugi kan perkembangan perusahaan.
Ketika nasabah mempunyai pengalaman yang baik terhadap PLN misalnya, maka nasabah akan mempunyai citra yang positif terhadap PLN tersebut. Dan sebaliknya, nasabah akan mempunyai citra yang buruk (negatif) apabila nasabah tersebut mempunyai pengalaman yang buruk terhadap PLN.
Dari penjelasan citra tadi, terlihat adanya masalah citra. Masalah citra ini pada dasarnya dikarenakan alasan sebagai berikut: pertama, Organisasi dikenal, tetapi citranya buruk. Kedua, Organisasi tidak dikenal dengan baik, tetapi mempunyai citra yang tidak jelas atau citra didasarkan pada pengalaman yang telah lama berlalu. Seperti yang telah dikemukakan Bernstein (1985) dan Gronsoon (1990) bahwa image (citra) adalah realitas, maka program-program pengembangan dan perbaikan citra akan memberikan citra yang positif harus didasarkan pada realitas. Citra hanya dapat dirasakan oleh nasabah dengan kenyataan yang dialami.Agar citra yang dipersepsikan oleh masyarakat baik dan benar, citra perlu dibangun dengan jujur.Cara yang sudah digunakan secara luas dan mempunyai kredibilitas yang tinggi, yaitu dengan hubungan masyarakat.Gaulke dalam Marken (1995) mengatakan bahwa tujuan hubungan masyarakat adalah merancang dan melindungi citra organisasi. Kotler (1997) juga menjelaskan bahwa daya tarik penggunaan hubungan masyarakat sebagai cara untuk membangun citra.
4.2 Citra Perusahaan
Citra baik merupakan harta yang sangat tinggi nilainya bagi perusahaan manapun.Citra mendukung daya saing perusahaan dalam jangka menengah dan panjang.Citra baik dapat menjadi perisai perusahaan saat berada dalam masa krisis.Oleh karena itu, setiap perusahaan mempunyai kewajiban untuk membangun citra baik perusahaan. Citra adalah gambaran yang dimiliki setiap orang mengenai pribadi perusahaan, organisasi atau produk (Kamus Besar Bahasa Indonesia 1996). Citra adalah tujuan utama dan sekaligus merupakan reputasi dan prestasi yang hendak dicapai oleh dunia.Pengertian citra itu abstrak dan tidak dapat diukur secara matematis tetapi dapat dirasakan dari hasil penelitian baik atau buruk seperti penerimaan tanggapan baik positif maupun negatif yang khususnya datang dari masyarakat luas (Ruslan, 1998: 62). Seperti halnya produk dan merek, citra perusahaan perlu dipopulerkan di masyarakat, terutama di kalangan segmen sasaran yang bertujuan untuk membuat segmen sasaran merasa peduli terhadap nama dan keberadaan perusahaan di masyarakat. Agar upaya mempopulerkan citra berhasil seperti yang dikehendaki, upaya tersebut hendaknya dilakukan secara bertahap.Tahap upaya mempopulerkan citra perusahaan, terdiri dari tiga kegiatan berurutan (Sutojo, 2004: 55), yaitu :
·         Pembentukan persepsi segmen sasaran. Langkah pertama upaya membentuk citra segmen sasaran tentang jati diri perusahaan adalah menciptakan citra yang akan dipopulerkan. Citra yang ingin dibentuk harus mencerminkan jati diri yang sebenarnya, tidak lebih tidak kurang.
·         Memelihara persepsi segmen sasaran. Apabila perusahaan berhasil membentuk persepsi segmen sasaran terhadap jati diri mereka, tugas perusahaan selanjutnya adalah memelihara persepsi tersebut.Apabila tidak dipertahankan dengan baik, citra perusahaan di mata masyarakat dapat menurun, bahkan dilupakan.
·         .Merubah persepsi segmen sasaran yang kurang menguntungkan. Perusahaan yang dikelola secara profesional akan berusaha keras merubah persepsi segmen sasaran yang tidak menguntungkan. Cara yang terbaik untuk merubah persepsi segmen sasaranyang tidak menguntungkan adalah berbenah diri dari dalam. Untuk mengetahui citra perusahaan, baik citra positif maupun negatif diperlukan alat ukut untuk mengetahui bagaimana citra perusaahaan tersebut. Ada empat hal yang digunakan sebagai alat pengukur citra perusahaan (Ruslan, 1998: 25), yaitu :
·         Kepercayaan
Merupakan kesan dan pendapat atau penilaian positif khalayak terhadap suatu perusahaan.
·         Realitas
·         Menggambarkan suatu yang realistis, jelas terwujud, dapat diukur dan hasilnya dapat dirasakan serta dapat dipertanggungjawabkan dengan perencanaan yang matang dan sistematis bagi responden. Terciptanya kerjasama yang saling menguntungkan Menggambarkan keadaan yang saling menguntungkan antara perusahaan dan publiknya.
·         Kesadaran
Adanya kesadaran khalayak tentang perusahaan dan perhatian terhadap produk yang dihasilkan.Citra perusahaan menggambarkan sekumpulan kesan(impressions),kepercayaan (beliefs), dan sikap (attitudes), yang ada di dalam benak konsumen terhadap perusahaan. Pembentukan citra yang ada di dalam benak konsumen terhadap dapat diukur dengan menggunakan indikator penilaian citra (Sutojo, 2004: 96)
4.3 Pengertian Public Relations
Lahirnya Public Relations seperti yang telah dipraktekkan sekarang ini merupakan timbulnya kemajuan di berbagai bidang.Kemajuan yang merupakan kekuatan dalam masyarakat, merupakan potensi juga untuk memecahkan manusia dalam kelompok-kelompok yang memiliki tujuan dan kepentingannya masing-masing. Karena itu sangat dibutuhkan satu kelompok tersendiri untuk membina hubungan baik diantara setiap kelompok agar masing-masing dapat mencapai tujuan tanpa melanggar kepentingan kelompok lain. Terdapat berbagai nama lain Public Relations (PR), tapi maknanya sama, seperti public affairs, corporate communications, public informations, corporate relations, corporate affairs, dan investor relations. Nama-nama lain PR pada sejumlah perusahaan dan asosiasi di Amerika tersebut kadangkala dihubungkan dengan periklanan, marketing, hubungan investor, dan hubungan karyawan, (Seitel, 1992:3 dan Wilcot, et el, 1992:12) dalam Soemirat dan Ardianto (2007:5). Posisi PR memiliki kredibilitas tertinggi, mengatasi persaingan menjadi lebih piawai.
Menurut Frank Jefkins dalam Yadin (2003:10), Public Relations adalah semua bentuk komunikasi yang terencana, baik itu ke dalam maupun ke luar, antara suatu organisasi dengan semua khalayaknya dalam rangka mencapai tujuan-tujuan spesifik yang berlandaskan pada saling pengertian. Pengertian diatas dianalisis menjadi 2 bagian:
  1. Bagian pertama dari definisi ini sama seperti yang telah diutarakan oleh IPR (Institute of Public Relations) yang menyatakan Public Relations adalah keseluruhan upaya yang dilakukan secara terencana dan berkesinambungan dalam rangka menciptakan dan memelihara niat baik dan saling pengertian antara suatu organisasi dengan segenap khalayaknya.
  2. Public relations menggunakan metode manajemen berdasarkan tujuan (management by objective). Dengan mengejar suatu tujuan, semua hasil atau tingkat kemajuan yang telah dicapai harus merupakan kegiatan yang nyata. Kenyataan ini dengan tegas menyangkal anggapan keliru yang mengatakan bahwa humas merupakan kegiatan yang abstrak.
Sedangkan menurut International Public Relations Associations (IPRA) dalam Ruslan (2007:16) mendefinisikan Public Relations adalah fungsi manajemen dari ciri yang terencana dan berkelanjutan melalui organisasi dan lembaga swasta atau publik (umum) untuk memperoleh pengertian, simpati dan dukungan dari mereka yang terkait atau mungkin ada hubungannya dengan penelitian opini publik diantara mereka. Untuk mengaitkannya sedapat mungkin kebijaksanaan dan prosedur yang mereka pakai untuk melakukan hal itu direncanakan dan disebarkan informasi yang lebih produktif dan pemenuhan keinginan bersama yang lebih efisien.
Cutlip, Center & Brown dalam Soemirat (2007:14) Menyebutkan Public Relations is the distinctive management function which help establish and mutual lines of communications, understanding, acceptance, and corporation between an organization and its public (PR adalah fungsi manajemen secara khusus yang mendukung terbentuknya saling pengertian dalam komunikasi, pemahaman, penerimaan dan kerjasama antara organisasi dengan berbagai publiknya).

4.4 PR (Public Relations)
Publik biasanya disebut dengan istilah penerima, sasaran, pembaca, pendengar, pemirsa, audience, decorder, atau komunikan. Khalayak adalah salah satu aktor dalam proses komunikasi, karena itu unsur khalayak tidak boleh diabaikan, sebab berhasil tidaknya suatu proses komunikasi sangat ditentukan oleh khalayak.
Publik dalam studi komunikasi dapat berupa individu, kelompok, atau masyarakat. Menjadi tugas seorang komunikator untuk mengetahui siapa yang akan menjadi khalayak sebelum proses komuikasi berlangsung.
Berikut 10 publik yang diidentifikasikan oleh Jefkins dalam Yadin (2003:81), kesepuluh publik tersebut adalah:
·         masyarakat luas
·         calon pegawai atau anggota
·         para pegawai atau anggota
·         pemasok jasa dan berbagai macam barang
·         para investor
·         para distributor
·         konsumen dan pemakai produk organisasi
·         para pemimpin pendapat umum
·         serikat-serikat pekerja
·         media massa
Public Relations dari sebuah organisasi bukan saja orang-orang yang berkepentingan dengan organisasi tersebut, tetapi juga orang-orang yang berada di luar organisasi.
4.5  Tugas Public Relations
Menurut Rumanti (2002:39-42) menyatakan empat tugas pokok PR adalah sebagai berikut:
·         Menyelenggarakan dan bertanggung jawab atas penyampaian informasi secara lisan, tertulis, melaluigambar (visual) kepada publik, supaya publik mempunyai pengertian yang benar tentang organisasi atau perusahaan.
·         Memonitor, merekam, dan mengevaluasi tanggapan serta pen dapat umum atau masyarakat.
·         Memperbaiki citra organisasi.
·         Tanggung Jawab Sosial (Social Responsibility). Public Relations merupakan instrumen yang bertanggung jawab terhadap semua kelompok yang berhak mendapatkan tanggung jawab tersebut. Terutama kelompok publik internal, publik eksternal dan pers.
Dari penjabaran di atas, maka dapat disimpulkan bahwa PR mempunyai tugas yang berkaitan dengan kegiatan perusahaan dan kepentingan publik. PR dituntut untuk dapat mengubah perilaku publik agar menyadari akan keberadaan perusahaan sekaligus menghubungkan antara kepentingan perusahaan dengan kepentingan publik demi terciptanya hubungan yang harmonis antara perusahaan dengan publiknya.
16
4.6  Bauran  Public Relations (Public Relations Mix)
Menurut Ruslan dalam Ardianto (2009:71-73), bauran Public Relations (PR) jika dijabarkan secara rinci dalam korelasi komponen utama peranan Public Relations, adalah sebagai berikut:
a. Publications (publikasi dan publisitas)
Setiap fungsi dan tugas Public Relations adalah menyelenggarakan publikasi atau menyebarluaskan informasi melalui berbagai media tentang kegiatan perusahaan/organisasi, yang pantas untuk diketahui oleh publik.Setelah itu, PR juga menghasilkan publisitas untuk memperoleh tanggapan positif secara lebih luas dari masyarakat.
b. Events (penyusunan program acara)
PR juga merancang acara tertentu yang dipilih dalam jangka waktu, tempat, dan objek tertentu yang secara khusus untuk mempengaruhi publik. Biasanya event tersebut ada beberapa jenis, diantaranya sebagai berikut:Calender event, yang rutin (regular event) yang dilaksanakan pada bulan tertentu sepanjang tahun.Special Events, yaitu event yang bersifat khusus, dan yang dilaksanakan pada momen tertentu diluar acara rutin dari program kerja PR. Moments Events, yaitu event atau acara yang bersifat momental, atau lebih khusus lagi.
c. News (menciptakan berita)
Upaya untuk menciptakan berita melalui press release, news letter, bulletin dan lain-lain yang biasanya mengacu pada teknis penulisan 5W+1H (Who, What, Where, When, Why, dan How). Sistematika penulisannya adalah ―piramida terbalik‖.Yang paling penting diletakkan di tengah batang berita.
d. Community Involvement (kepedulian pada komunitas)
Tugas sehari-hari seorang Public Relations Officer (PRO) adalah mengadakan kontak sosial dengan kelompok masyarakat tertentu, serta menjaga hubungan baik (community relations dan humanity relations) dengan pihak organisasi atau lembaga yang diwakilinya.
e. Inform or Image (memberitahukan atau meraih citra)
Ada dua fungsi utama dari Public Relations, yakni memberitahukan sesuatu kepada publik atau menarik perhatian sehingga diharapkan akan memperoleh tanggapan berupa citra positif. Proses dari ―nothing‖ menjadi ‖something‖. Dari yang tidak tahu menjadi tahu, setelah tahu menjadi suka, dan kemudian diharapkan timbul sesuatu (something) yaitu berupa citra.
f. Lobbying and Negotiating (Pendekatan dan bernegosiasi)
Keterampilan untuk melobi secara personal, dan kemampuan bernegosiasi sangat diperlukan bagi seorang PRO (Public Relations Officer), agar semua rencana, ide, atau gagasan kegiatan suatu lembaga memperoleh dukungan dari individu dan lembaga yang berpengaruh, sehingga timbul situasi saling menguntungkan (win-win solution)
g. Social Responsibility (Tanggung jawab sosial)
Aspek tanggung jawab sosial dalam dunia Public Relations sangat penting.PR tidak hanya memikirkan keuntungan bagi lembaga atau organisasi serta tokoh yang diwakilinya, tetapi juga kepedulian kepada masyarakat. Hal ini penting, supaya ia memperoleh simpati atau empati dari khalayaknya. Inilah yang di dalam teori Public Relations disebut sebagai Social Marketing.

4.7  Hubungan Public Relations dengan Public Intrnal
Menurut Ruslan (2010:23) yang dimaksud dengan publik internal adalah “publik yang menjadi bagian dari unit/badan/perusahaan atau organisasi itu sendiri”.
Sedangkan menurut Ardianto (2010:124) publik internal adalah “publik yang berada di dalam perusahaan.Misalnya : para karyawan, satpam, penerima telepon, supervisor, klerk, manajer, para pemegang saham, dan sebagainya”.
Lebih lanjut Jefkins menjelaskan (2003:82) khalayak internal dalam humas terdiri dari : perusahaan-perusahaan rekanan, calon pegawai, pegawai yang sudah ada, pihak manajemen, para pegawai baru, rekanan di luar negeri, pemilik saham, dan serikat pekerja.
Widjaja (2010:71-74) menjelaskan tujuan daripada hubungan masyarakat ke dalam ialah pada hakikatnya untuk meningkatkan kegairahan bekerja para karyawan lembaga atau instansi yang bersangkutan. Sebagai garis besar dapat disimpulkan sebagai berikut, Internal public meliputi :
                        a.      Employee Relations
Memelihara hubungan khusus antara manajemen dengan karyawan dalam kepegawaian secara formal.Misalnya mengenai penempatan, pemindahan, kenaikan pangkat, pemberhentian, pensiun dan sebagainya.
            b.      Human Relations
Memelihara hubungan khusus antara sesama warga dalam perusahaan secara informal, sebagai manusia (secara manusiawi).Pergaulan antara manusia, bukan sebagai hubungan manusia secara formal.
c.       Labour Relations
Memelihara hubungan antara direksi/manajer dengan serikat-serikat buruh dalam perusahaan serta turut menyelesaikan masalah-masalah yang timbul.Mengadakan tindakan-tindakan preventif mencegah kesulitan-kesulitan yang timbul, karenanya turut melancarkan hubungan yang harmonis antara kedua belah pihak.
            d.      Stockholder Relations, Industrial Relations
Sesuai dengan sifat dan kebutuhan perusahaan yaitu mengadakan hubungan dengan para pemegang saham.
Dengan uraian di atas, selain memiliki peran dalam menjalankan kegiatan employee relations, PR juga memiliki peran untuk menjaga hubungan dengan publik luar dan juga dengan publik dalam.Dalam hal ini yaitu kegiatan employee relations dalam meningkatkan motivasi kerja pegawai.


BAB V
PENUTUP

5.1 Kesimpulan
                       
















DAFTAR PUSTAKA

·         Abdurrachman, Oemi. 1993. Dasar-Dasar Public Relations. Bandung
·         Arifin, Anwar. 2007. Public Relations. Pustaka Indonesia.
·         Effendy, Onong Uchana. 1998. Human Relations dan Public Relations. Bandung:Mandar Maju.
·         http://zizer.wordpress.com/2009/12/19/membangun-citra-pribadi-sekretaris-yang-positif/




Komentar

Postingan populer dari blog ini

PUBLIC RELATIONS

IMAGE RESTORATION MALAYSIA AIRLINES MH-370

KONSTRUKSI JOKOWI R.I 1